Senin, 25 Januari 2010
Kompas, Senin, 25 Januari 2010 Pendemo Siap Datangi Istana
Ribuan orang
direncanakan turun ke jalan menggelar unjuk rasa di sekitar Istana
Negara pada 28 Januari mendatang. Demonstrasi besar-besaran itu
dimobilisasi puluhan elemen pergerakan yang tergabung dalam konsorsium
gerakan bernama Petisi 28. Adhie Massardi, salah seorang aktivis
Komite Bangkit Indonesia yang tergabung dalam Petisi 28, Minggu (24/1),
mengatakan, jumlah massa yang diperkirakan 20.000 orang itu hanya
berasal dari DKI Jakarta. Ia menyebut, demonstrasi serupa akan pula
berlangsung di sejumlah daerah di Indonesia. Berbagai momentum
untuk memanaskan eskalasi demonstrasi rencananya akan dimulai pada
Senin ini dengan rapat akbar di Universitas Nasional, Jakarta.
Selanjutnya, pada Selasa (26/1) akan pula diadakan rapat akbar serupa
di Universitas Indonesia. Ia menambahkan, demonstrasi itu
dirancang sebagai gerakan damai dan tidak menjurus pada skenario
terburuk seperti kerusuhan. ”Pada hari ini (Senin, 25/1) kami akan
sampaikan pemberitahuan demonstrasi ke Polda (Metro Jaya) sekaligus
meminta bantuan polisi untuk mengamankan,” ucapnya. Adapun
mengenai tudingan pemerintah bahwa gerakan demonstrasi 28 Januari yang
diusung oleh sejumlah elemen sebagai gerakan makar, Adhie menyebutnya
sebagai kecengengan penguasa. Menyelamatkan bangsa Secara
terpisah, Haris Rusly yang mewakili Presidium Nasional Forum
Kepemimpinan Pemuda Indonesia (FKPI) memastikan bahwa demonstrasi
tanggal 28 Januari bukanlah puncak gerakan. ”Kami ingin membedakan
dengan (demonstrasi antikorupsi) 9 Desember lalu yang antiklimaks,”
katanya. Menurut Haris, gerakan demonstrasi 28 Januari tidak
dipayungi suatu koalisi tertentu dan sifatnya meluas dari berbagai
kalangan dan elemen pergerakan. ”Seperti Bendera (Benteng Demokrasi
Rakyat), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), serikat buruh, bergerak
sendiri. Ini betul-betul gerakan yang lahir dari keprihatinan,” katanya. Haris menambahkan, tujuan utama demonstrasi 28 Januari adalah menyelamatkan bangsa. Sementara
itu, program-program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono selama 100 hari masa pemerintahan ini tenggelam oleh
berbagai kasus politik dan hukum. Akibatnya, tingkat kepuasan atau
persepsi masyarakat atas pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono pun
ikut melorot drastis. Demikian yang terangkum dalam diskusi
bertema Seratus Hari Kabinet di Jakarta, Sabtu (23/1). Direktur
Eksekutif Indo Barometer M Qodari pada kesempatan itu merilis soal
menurunnya tingkat kepuasan masyarakat berdasarkan hasil survei
terakhir lembaganya pada pertengahan Januari lalu. ”Tingkat kepuasan
(masyarakat) saat ini hanya 75 persen, turun dari bulan Agustus 2009
yang mencapai 90 persen,” katanya. Qodari menyebut tingkat
kepuasan 90 persen di awal masa kepemimpinan itu wajar mengingat masih
dalam masa bulan madu pemerintahan. Namun, tak bisa dimungkiri sejumlah
kasus atau skandal hukum dan politik turut memengaruhi. Menurut
Qodari, berdasarkan hasil survei tersebut, saat ini masyarakat justru
lebih mengetahui soal skandal Bank Century ketimbang program 100 hari
masa pemerintahan. Tercatat hanya 49 persen responden yang mengetahui
soal program-program pemerintah selama 100 hari masa pemerintahan kedua.
|