Kamis, 28 Januari 2010
Kompas, Kamis, 28 Januari 2010 Jejaring Kekuasaan Saudara Sedarah
Kekhawatiran otonomi daerah akan
melahirkan raja-raja kecil beralasan. Masyarakat terjebak dalam
semangat primordialisme sehingga mengagungkan hubungan darah untuk
melanggengkan kekuasaan, seperti yang dilakukan raja pada abad lalu. Otonomi
daerah, tidak bisa diingkari, melahirkan patron baru dalam perpolitikan
lokal. Politik kekerabatan pun kian kental terlihat, tak terkecuali di
Banten. Hampir semua akses politik, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan
dikuasai kelompok tertentu yang terikat hubungan darah dan kedekatan
personal. Sudah menjadi rahasia umum jika keluarga Gubernur
Banten Ratu Atut Chosiyah menguasai sejumlah jabatan strategis dalam
politik dan pemerintahan di Banten. Mereka juga terlibat dalam berbagai
jabatan informal. Ratu Atut mengawali karier politiknya setelah
Provinsi Banten terbentuk, 4 Oktober 2000. Dengan dukungan penuh dari
ayahnya, Tubagus Chasan Sochib, ia terpilih menjadi Wakil Gubernur
Banten pertama mendampingi Gubernur Djoko Munandar. Keduanya mendapat
suara terbanyak dalam pemilihan oleh anggota DPRD Banten untuk menjadi
kepala daerah periode 2002-2007. Karier politik Atut mulai
menanjak saat Djoko dinonaktifkan sebagai gubernur, Oktober 2005,
setelah menjadi terdakwa penyalahgunaan dana tak tersangka APBD Banten
tahun 2003. Dana Rp 14 miliar yang seharusnya dipakai untuk membiayai
penanganan bencana malah dipakai membayar dana tunjangan perumahan bagi
anggota DPRD Banten periode 2001-2004 dan tunjangan kegiatan panitia
anggaran DPRD. Meski terbukti tak memperkaya diri sendiri,
Desember 2005, Djoko divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri
Serang. Ia meninggal pada Desember 2008, beberapa bulan sebelum
Mahkamah Agung memutuskan tak bersalah dalam kasus penyalahgunaan dana
tak tersangka APBD 2003. Keputusan Menteri Dalam Negeri (saat
itu) M Ma’ruf menonaktifkan Djoko memuluskan jalan Atut untuk menempati
jabatan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten. Jabatan itu adalah pintu
masuk pencalonan sebagai Gubernur Banten periode 2007- 2012. Ia,
bersama M Masduki, dengan mudah memenangi Pemilu Kepala Daerah
(Pilkada) 2006. Inilah awal praktik politik kekerabatan di Banten. Pilkada
Kabupaten Tangerang, Januari 2008, menjadi obyek menguji coba kekuatan
keluarga Atut di daerah. Adik iparnya, Airin Rachmi Diany, mencalonkan
diri menjadi wakil bupati Tangerang mendampingi politisi Partai
Keadilan Sejahtera (PKS), Jazuli Juwaeni. Namun, istri Tubagus Chaeri
Wardana alias Wawan (adik kandung Atut) itu gagal memenangi pilkada.
Suara yang mereka peroleh di bawah perolehan suara Ismet Iskandar-Rano
Karno. Adik tiri Atut, Tubagus Haerul Jaman, mencalonkan diri
menjadi wakil wali kota Serang mendampingi Bunyamin yang menjabat
sebagai Bupati Serang periode 2000-2005. Pasangan ini bersaing dengan
tujuh pasang kandidat lain memperebutkan sekitar 300.000 suara pada
pilkada, Agustus 2008. Pasangan ini ke putaran kedua bersama pasangan
Jayengrana-Deden Apriandi. Bunyamin-Jaman memenangi putaran kedua
pilkada, Oktober 2008. Pada waktu yang hampir bersamaan, Ratu
Tatu Chasanah, adik kandung Atut lainnya, mengikuti Pilkada Kabupaten
Lebak. Tatu sempat melamar menjadi calon wakil bupati mendampingi
Mulyadi Jayabaya, tetapi ditolak. Dia pun gagal mengikuti Pilkada Lebak
yang digelar Oktober 2008. Kegagalan Airin dan Tatu tak menyurutkan semangat mereka. Pemilu 2009 menjadi hajat besar bagi keluarga Hasan Sochib. Suami
Atut, Hikmat Tomet, mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari Partai
Golkar. Andika Hazrumy, anak sulungnya, sebagai calon anggota DPD.
Istri Andika, menantu Atut, Ade Rossi Chaerunnisa mencalonkan diri
sebagai anggota DPRD Kota Serang. Tatu maju menjadi calon
anggota DPRD Banten dari daerah pemilihan Pandeglang. Adik ipar Atut,
Aden Abdul Khaliq, juga melamar menjadi anggota DPRD Banten. Dua
ibu tiri Atut, Ratna Komalasari dan Heryani, mengincar kursi
legislatif. Ratna menjadi anggota DPRD Kota Serang dan Heryani menjadi
anggota DPRD Pandeglang. Mereka memiliki modal akses politik,
ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Keluarga besar Atut menguasai
berbagai jabatan informal. Hikmat Tomet, misalnya, menjabat Ketua Dewan
Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Banten. Andika menjadi
Koordinator Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Banten, Bendahara Karang
Taruna Banten, dan Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Banten. Ade Rossi
adalah Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Serang. Tatu
menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Banten dan Airin adalah
Ketua PMI Kota Tangerang Selatan. Tatu juga menjabat Ketua Dewan
Koperasi Indonesia Banten, Ketua Gerakan Nasional Kepedulian Sosial
Banten, serta Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia
Banten. Keluarga ini menguasai jabatan dalam partai politik
pula. Ratu Atut menjadi salah seorang ketua di Dewan Pimpinan Pusat
(DPP) Partai Golkar, Hikmat Tomet adalah Ketua Partai Golkar Banten,
Tatu Ketua Partai Golkar Pandeglang, dan Tubagus Chaeri Wardana adalah
Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Banten. Adik tiri Atut, Ratu
Lilis Karyawati (istri Aden Abdul Khaliq), adalah Ketua Partai Golkar
Kota Serang. Tahun 2010, Tatu mencalonkan diri sebagai Wakil
Bupati Serang mendampingi Taufik Nuriman. Pasangan Taufik-Tatu telah
mendeklarasikan pencalonannya, Minggu lalu. Airin juga disebut-sebut
akan menjajal peruntungannya dengan mencalonkan diri sebagai Wali Kota
Tangerang Selatan. Keluarga bupati Budaya
politik kekerabatan tak hanya diterapkan keluarga besar Atut. Bupati
dan wali kota di provinsi muda itu pun berusaha melanggengkan kekuasaan
dengan menempatkan sejumlah kerabat dalam jabatan politik dan
pemerintahan serta jabatan informal lainnya. Dimyati Natakusumah
dan istrinya, Irna Narulita, tahun lalu menjadi anggota DPR dari Partai
Persatuan Pembangunan. Dimyati sebelumnya adalah Bupati Pandeglang.
Tahun ini, Irna dikabarkan mencalonkan diri sebagai Bupati Pandeglang. Anak
kandung Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya, yakni Iti Oktavia, terpilih
menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat. Adik Bupati Lebak, Mulyanah,
terpilih menjadi anggota DPRD Lebak. Suaminya, Agus R Wisas, menjadi
anggota DPRD Banten. Ahmed Zaki Iskandar Zulkarnaen, anak
kandung Bupati Tangerang Ismet Iskandar, pun lolos ke Senayan. Begitu
pula Tubagus Iman Ariyadi, anak Wali Kota Cilegon Tubagus Aat Syafaat,
terpilih menjadi anggota Fraksi Partai Golkar DPR. Tahun ini, Iman akan terjun dalam bursa Pemilihan Wali Kota Cilegon didampingi Edi Ariadi, Sekretaris Kota Cilegon. Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI), Lili Romli, berpendapat, politik kekerabatan bukan budaya khas
Banten dan Indonesia. Politik kekerabatan juga dikenal di negara lain,
termasuk Amerika Serikat. Budaya itu akan menjadi kemajuan bagi
demokrasi apabila tak hanya menekankan hubungan darah, tetapi juga
kompetensi dan kemampuan. Sebaliknya, jika hanya didasarkan pada
hubungan darah, itu adalah kemunduran bagi demokrasi.
|